wakil kepala bgn nanik sudaryati deyang

JAKARTA, Lingkar.news Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara atau suspend dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Ponorogo, Jawa Timur karena praktik pemotongan anggaran dan intimidasi oleh pemilik.

Oknum pemilik yayasan yang mengelola dua SPPG itu mengaku sebagai cucu menteri untuk menekan kepala SPPG, pengawas gizi, hingga pengawas keuangan.

Dugaan Intimidasi dan Klaim Cucu Menteri

Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, mengatakan Kepala SPPG Ponorogo Kauman Somorto, Rizal Zulfikar Fikri, dan Kepala SPPG Ponorogo Jambon Krebet, Moch. Syafi’i Misbachul Mufid, menghampiri dirinya saat kunjungan ke Blitar, Jawa Timur, untuk meminta perlindungan.

Keduanya mengaku ditekan dan diintimidasi pengelola SPPG di bawah Yayasan Bhakti Bhojana Nusantara.

“Dua Kepala SPPG dari Ponorogo ini jauh-jauh datang ke Blitar untuk menemui saya karena minta perlindungan, ternyata selama berbulan-bulan mereka bersama pengawas gizi dan pengawas keuangan selalu ditekan dan diintimidasi sebuah yayasan yang mengaku dimiliki seorang cucu menteri,” kata Nanik S Deyang dikonfirmasi di Jakarta, Selasa (17/3/2026).

Disinyalir Potong Anggaran Bahan Pangan

Yayasan yang membawahi kedua SPPG itu disinyalir juga telah merekayasa pembelian bahan pangan. Dari anggaran Rp10 ribu per porsi untuk pembelian bahan pangan yang ditetapkan BGN, mereka hanya membelanjakan Rp6.500 per porsi.

Akibatnya, kedua kepala SPPG itu kerap harus nombok atau menutup kekurangan belanja dari kantong pribadi agar menu terlihat pantas.

“Mau enggak mau, kami nombok, saya kasihan sama adik-adik siswa penerima manfaat,” kata Mufid.

Perbuatan pemilik yayasan yang menaungi dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) itu, kata Nanik, sungguh tidak manusiawi dan tidak pantas.

Selama ini, kedua Kepala SPPG itu terus ditekan dan ditakut-takut akan didatangkan polisi atau pengacara jika tidak mengikuti kemauan yayasan. Bahkan semua relawan dan sekolah penerima manfaat pun diminta tanda tangan untuk mengusir kedua kepala SPPG itu.

BGN Lakukan Inspeksi dan Penutupan

Mendengar keluhan dan pengaduan kedua kepala SPPG yang sampai menangis malam itu, Nanik langsung menugaskan Direktur Pemantauan dan Pengawasan Wilayah II BGN Brigjen TNI Albertus Dony Dewantoro untuk menginspeksi kedua dapur itu secara langsung.

Nanik sangat marah karena kedua kepala SPPG itu direkrut sebagai perwakilan BGN, tetapi ada upaya yayasan untuk menyingkirkan mereka dengan cara-cara yang keji. Oleh karena itu ia langsung memerintahkan Brigjen Dony untuk menutup dapur itu.

“Hentikan! Kalau perlu selamanya, kalau mereka tidak menunjukkan perbaikan sikap mereka kepada Kepala SPPG, Pengawas Gizi, dan Pengawas Keuangan,” ucap Nanik.

Nanik kemudian langsung menelepon menteri yang diklaim memiliki keturunan dari oknum pemilik yayasan. Dengan tegas, menteri itu mengatakan bahwa beliau tidak memiliki cucu bernama X yang memiliki kedua dapur itu, bahkan menegaskan jika ada orang yang mengaku sebagai keluarganya untuk ditutup saja SPPG-nya.

Kondisi Dapur SPPG Tidak Layak

Sementara di lokasi, tim sidak menemukan kondisi dapur yang kotor, bau, jorok, dan belum memenuhi ketentuan petunjuk teknis maupun standard operating procedure (SOP) SPPG.

Tim mendapati lantai dapur yang mengelupas, dinding-dinding dapur yang kotor, keropos dan berjamur, ruang pemorsian yang tidak layak dan tidak ber-AC, tidak ada ruang istirahat, serta penyimpanan seadanya dan tidak terpisah.

Untuk memperbaiki berbagai sarana dan prasarana SPPG, kedua kepala SPPG itu terpaksa juga merogoh kocek mereka karena yayasan yang mengelola kedua SPPG itu maupun pemiliknya tidak mau keluar uang untuk sekadar memperbaiki dapur. Padahal berbagai sarana dan prasarana SPPG sangat buruk.

Saat mencium aroma busuk yang menguar dari kedua dapur itu, Brigjen Dony menegaskan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) mereka sangat tidak memadai dan hanya memakai buis beton bersambung yang isinya sudah hampir meluap dan hanya ditutup dengan triplek tipis.

“Dapur-dapur ini sangat tidak layak untuk dilanjutkan,” ujar Dony.

Jurnalis: Ant
Editor: Basuki