
SURABAYA, Lingkar.news – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengklaim penyebaran virus influenza A (H3N2) subclade K atau yang dikenal sebagai super flu di wilayah Jawa Timur hingga akhir 2025 masih dalam kondisi terkendali.
Menurutnya, hal itu didasarkan pada hasil surveilans dan pemeriksaan laboratorium rujukan Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
“Kami ingin menegaskan kepada masyarakat bahwa virus influenza A (H3N2) subclade K tidak berbahaya dan tidak mematikan. Di Jawa Timur, kondisi ini masih terkendali dengan baik,” kata Khofifah di Surabaya, Senin, 5 Januari 2026.
Menurut Khofifah, kemunculan subclade baru influenza merupakan fenomena yang lazim dalam perkembangan virus dan terus dipantau secara ilmiah oleh para ahli. Oleh karena itu, ia meminta masyarakat tidak panik, namun tetap meningkatkan kewaspadaan.
“Oleh karena itu masyarakat tidak perlu panik, namun harus tetap waspada dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS),” ucapnya.
Ia menjelaskan, pemantauan terhadap virus influenza A (H3N2) subclade K dilakukan secara berkelanjutan melalui site sentinel Influenza Like Illness (ILI) di Puskesmas Dinoyo, Kota Malang, serta Severe Acute Respiratory Infection (SARI) di RSUD dr. Saiful Anwar, Kota Malang.
“Seluruh temuan ini menjadi dasar bagi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim untuk terus memperkuat kewaspadaan dini, terutama melalui pemantauan kasus ISPA di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan,” ujarnya.
Khofifah menambahkan, spesimen hasil surveilans rutin dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya dan selanjutnya diteruskan ke Balai Besar Laboratorium Biologi Kesehatan (Biokes) Jakarta untuk pemeriksaan Whole Genome Sequencing.
Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium tersebut, tercatat sebanyak 18 kasus positif dengan waktu pengambilan spesimen pada periode September hingga November 2025.
Kasus positif mayoritas ditemukan pada kelompok usia anak dan remaja, dengan jumlah yang relatif seimbang antara laki-laki dan perempuan.
Dalam upaya antisipasi, Khofifah menyebut Pemprov Jatim melalui Dinas Kesehatan melakukan pemantauan rutin surveilans ILI-SARI, koordinasi intensif dengan Kementerian Kesehatan dan BBLKM Surabaya, serta pemantauan mingguan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) dan pelaporan lewat aplikasi New All Record (NAR).
“Meskipun di Jatim terkendali, saya mengajak masyarakat untuk disiplin menerapkan etika batuk dan perilaku hidup bersih dan sehat. Penggunaan masker, terutama di kerumunan dan ruang tertutup, sangat dianjurkan,” kata Khofifah.
Sebagai langkah penguatan pencegahan, Pemprov Jatim juga berencana menerbitkan surat edaran terkait kewaspadaan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
“Ke depan, kami akan menerbitkan surat edaran kewaspadaan ISPA sebagai bagian dari upaya pencegahan. Dengan langkah ini, kami berharap kewaspadaan dapat diperkuat tanpa menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat,” tutupnya.
Jurnalis: Ant
Editor: Rosyid
