
PACITAN, Lingkar.news – Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto melepas ekspor 11,5 ton gula aren organik asal Desa Temon, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, ke Malaysia, Belanda, dan Australia.
Pelepasan ekspor yang dipusatkan di Desa Sejahtera Astra Temon itu menandai penguatan posisi produk unggulan desa menembus pasar internasional dengan nilai ekspor mencapai Rp535 juta.
“Saya sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang sudah menjadi inisiator di Desa Temon ini untuk melahirkan Desa Ekspor, di mana hari ini kita melepas ekspor gula aren organik,” kata Yandri seusai seremoni pelepasan ekspor di Pacitan, Kamis (12/2/2026).
Pastikan Kualitas dan Distribusi Ekspor
Sebelum prosesi pelepasan, Yandri sempat naik ke kabin truk bermuatan enam ton gula aren untuk memastikan kesiapan distribusi menuju Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.
Ia berpesan agar pengemudi menjaga muatan dengan baik karena komoditas tersebut membawa nama daerah dan bangsa.
“Ingat, yang ada di belakang itu bukan sekadar gula aren, tapi mewakili Pacitan, Jawa Timur, dan juga Merah Putih,” ujarnya.
Yandri menekankan tiga prasyarat keberlanjutan ekspor, yakni menjaga mutu, memastikan kuantitas, dan menjamin kesinambungan produksi melalui penguatan budidaya serta regenerasi tanaman aren.
Pacitan Bidik Ekspor Produk Unggulan Lain
Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji menyatakan ekspor gula aren organik diharapkan membuka akses pasar internasional bagi komoditas unggulan lain dari daerah berjuluk “70-Mile Sea Paradise” tersebut.
“Kita tidak bisa bekerja sendiri, harus kolaborasi. SDM desa juga harus diperkuat agar mampu mengenali dan mengelola potensi yang ada,” kata Indrata.
Peran Program Desa Sejahtera Astra
Sementara itu perwakilan manajemen Astra dalam sambutannya menyebut ekspor gula aren organik Desa Temon merupakan hasil kolaborasi masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha melalui Program Desa Sejahtera Astra.
Sejak 2018, Astra telah membina 1.280 desa di 35 provinsi, dengan 548 desa berhasil menembus pasar internasional dan mencatat valuasi ekspor kumulatif Rp411 miliar dalam lima tahun terakhir.
Khusus di Pacitan, program tersebut melibatkan sekitar 400 masyarakat dari lima desa melalui pendampingan Temon Agro Lestari.
Pembinaan dilakukan melalui pelatihan pra-Standar Nasional Indonesia (SNI) organik, penerapan Internal Control System (ICS), penguatan proses produksi hulu-hilir, audit sistem manajemen pangan (HACCP), serta pembangunan dapur bersih petani.
Program itu dilaporkan meningkatkan pendapatan masyarakat hingga 50 persen dengan tingkat penyerapan produk mencapai 100 persen, sekaligus memperkuat ekosistem produksi gula aren organik yang berkelanjutan dan berdaya saing ekspor.
Manajemen Astra menyatakan momentum ekspor tersebut menjadi bukti kesiapan produk unggulan desa bersaing di pasar global melalui standar mutu dan keberlanjutan yang konsisten dibangun.
Dengan pelepasan ekspor ini, Desa Temon ditetapkan sebagai salah satu model desa ekspor berbasis komoditas organik di Pacitan, yang diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi desa secara inklusif dan berkelanjutan.
Jurnalis: Ant
Editor: Basuki
