
KAB. MALANG, Lingkar.news – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang menargetkan produksi tangkapan ikan laut pada 2026 mencapai 29,7 ribu ton, meningkat dari realisasi sepanjang 2025 yang mencapai 28,4 ribu ton.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Malang, Victor Sembiring, mengatakan target tersebut dinilai realistis melihat capaian produksi perikanan tangkap laut pada tahun sebelumnya.
“Pada 2025 hasil perikanan tangkap laut kami mencapai 28,4 ribu ton. Maka dari itu, pada 2026 targetnya kami tingkatkan menjadi 29,7 ribu ton lebih,” ujar Victor, Rabu (14/1/2026).
Realisasi 2025 Lampaui Target
Victor menjelaskan, realisasi produksi perikanan tangkap laut pada 2025 bahkan melampaui target sebesar 4,40 persen. Berdasarkan data Dinas Perikanan Kabupaten Malang, target produksi tangkapan ikan laut pada 2025 hanya dipatok 21,9 ribu ton.
Capaian tersebut menjadi dasar optimisme pemerintah daerah dalam menetapkan target yang lebih tinggi pada 2026.
Nelayan Mampu Hadapi Tantangan Cuaca
Selain itu, kemampuan nelayan pesisir Kabupaten Malang dalam memetakan lokasi tangkap potensial juga berperan besar dalam peningkatan produksi. Menurut Victor, para nelayan tetap mampu melaut meski menghadapi kondisi cuaca kurang bersahabat.
“Cuaca bukan menjadi halangan. Nelayan sudah memahami wilayah migrasi ikan, seperti ikan layur yang berada di jarak delapan hingga 12 mil di depan Desa Pujiharjo, sehingga penangkapan bisa dilakukan secara masif,” jelasnya.
Ikan Layur Jadi Komoditas Unggulan
Salah satu komoditas yang memberikan kontribusi signifikan terhadap produksi perikanan laut Kabupaten Malang adalah ikan layur. Sepanjang 2025, jumlah tangkapan ikan layur mencapai 6,1 ribu ton, melonjak drastis dibandingkan rata-rata tahunan sebelumnya yang hanya sekitar 1.500 ton.
Victor menyebut tingginya tangkapan layur dipengaruhi oleh harga jual yang menguntungkan, yakni berkisar antara Rp40 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram, tergantung bobot ikan.
Selain diminati di pasar domestik, ikan layur asal Kabupaten Malang juga memiliki permintaan tinggi di pasar ekspor, terutama ke China.
“Konsumsi terbesar memang dari China karena masyarakat di sana memiliki kebiasaan mengonsumsi ikan layur dan sudah menjadi bagian dari budaya,” ujar Victor.
Jurnalis: Ant
Editor: Basuki
