
SURABAYA, Lingkar.news – Misi dagang dan investasi Jawa Timur (Jatim) ke Arab Saudi menghasilkan potensi transaksi senilai Rp6,7 triliun. Nilai tersebut tercatat dalam forum temu bisnis yang mempertemukan pelaku usaha Jatim dan Arab Saudi di Jeddah, Kamis (24/9/2026).
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengatakan besarnya potensi transaksi tersebut menunjukkan terbukanya peluang kerja sama ekonomi antara pelaku usaha Jatim dan Arab Saudi.
“Dari proses kurasi, business matching secara daring yang dilakukan berkali-kali, hingga one-on-one meeting, nilai potensi transaksi yang tercatat mencapai Rp6,7 triliun,” kata Khofifah dalam keterangannya di Surabaya, Jumat (25/9/2026).
Forum bisnis tersebut membahas peluang perdagangan produk unggulan Jawa Timur, industri halal, serta berbagai kebutuhan pendukung penyelenggaraan ibadah haji dan umrah.
Khofifah mengatakan komitmen bisnis yang telah terbentuk perlu segera ditindaklanjuti dengan pembahasan mengenai kebutuhan produk, kapasitas pasokan, dan ketentuan perdagangan yang berlaku di kedua negara.
“Mudah-mudahan apa yang sudah menjadi komitmen bersama dapat kita tindak lanjuti dengan tetap memperhatikan dinamika regulasi di kedua negara. Dengan kerja keras dan semangat untuk terus menguatkan perdagangan serta hubungan ekonomi kedua negara, insyaallah seluruh komitmen transaksi yang telah ditandatangani dapat direalisasikan,” ujarnya.
Produk yang ditawarkan dalam misi dagang tersebut cukup beragam, mulai dari briket dan arang kayu, suku cadang dan aksesori kendaraan, lembaran kaca, kertas, baterai dan aki, produk plastik, bahan kimia, hingga minyak sawit olahan.
Peluang ekspor juga mencakup produk fesyen, mesin industri, pakan ternak, susu, kopi, teh, rempah-rempah, serta berbagai pangan olahan.
Salah satu produk yang dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan di pasar Arab Saudi dan kawasan Timur Tengah adalah fesyen berbasis wastra dan bordir Jawa Timur.
“Wastra dan bordir Jawa Timur sangat berkualitas dan memiliki potensi yang luar biasa. Mudah-mudahan kita memperoleh kesempatan untuk memasuki pasar Arab Saudi dan Timur Tengah lebih luas lagi, terutama untuk produk busana berbasis bordir,” kata Khofifah.
Selain perdagangan produk, Jawa Timur menawarkan kapasitas industri, perdagangan, dan konektivitas daerah untuk mendukung kebutuhan penyelenggaraan haji dan umrah.
Jawa Timur memiliki 13 kawasan industri, dua Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), satu kawasan industri halal, 37 pelabuhan, tujuh bandara, dan 12 ruas jalan tol.
Penguatan kerja sama juga didukung ekosistem halal Jawa Timur yang mencakup Halal Industrial Park Sidoarjo (HIPS), 15 lembaga pemeriksa halal (LPH), 85 lembaga pendamping proses produk halal (LP3H), serta 16.424 pendamping proses produk halal (PPH).
“Ekosistem halal ini penting karena yang kita tawarkan bukan sekadar produk. Kita ingin membangun rantai nilai yang didukung kawasan industri, proses produksi, sertifikasi, sumber daya manusia, hingga distribusi,” ujarnya.
Pada periode Januari-Juni 2026, nilai ekspor Jawa Timur ke Arab Saudi tercatat 24,28 juta dolar AS dengan surplus perdagangan sebesar 50,40 juta dolar AS.
Misi dagang dan investasi tersebut diikuti sekitar 50 perusahaan serta pelaku usaha dari Arab Saudi.
Jurnalis: Ant
Editor: Basuki