unnamed file 158 750x536 1

Surabaya (LINGKAR.NEWS) – Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) berhasil meraih dua rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) atas inisiatif pemetaan talenta aparatur sipil negara (ASN). Pemetaan ini dinilai masif, terukur, dan berbasis sistem, serta menjadi fondasi penguatan birokrasi yang berintegritas.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menjelaskan, pemetaan yang dilakukan tidak hanya mengukur kompetensi, tetapi juga mencakup pemetaan potensi dan Talent DNA. “Pemetaan ini kami lakukan bukan tidak hanya mengukur kompetensi, tetapi sekaligus pemetaan potensi dan Talent DNA, sehingga mampu menggambarkan kapasitas individual ASN secara menyeluruh,” kata Khofifah di Surabaya, Rabu.

Dua piagam rekor MURI, bernomor 12532/R.MURI/XI/2025 dan 12533/R.MURI/XI/2025, secara resmi menegaskan Jawa Timur sebagai provinsi pertama yang melaksanakan pemetaan talenta ASN secara masif, terukur, dan berbasis sistem.

Sebanyak 36.668 pegawai negeri sipil (PNS) dan calon pegawai negeri sipil (CPNS) telah mengikuti proses pemetaan talenta ini, menjadikannya jumlah terbesar yang pernah tercatat di Indonesia.

Khofifah mengungkapkan, capaian ini merupakan hasil asesmen komprehensif yang dilakukan oleh Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Jatim melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Penilaian Pegawai.

Untuk memperkuat metodologi, Pemprov Jatim juga menjalin kerja sama dengan Founder ESQ Leadership Center, Ary Ginanjar Agustian, guna mengembangkan pemetaan potensi yang berbasis Talent DNA. Langkah ini diambil untuk memastikan penilaian dilakukan secara lebih ilmiah, terstandar, dan presisi dalam mengidentifikasi karakter dasar talenta ASN.

Metode pemetaan meliputi assessment center, tes berbasis komputer (CAT) kompetensi, analisis formasi, dan instrumen Talent DNA. Semua instrumen tersebut terintegrasi dengan sistem manajemen talenta ASN Jawa Timur, mencakup penilaian terhadap PNS dan CPNS lintas perangkat daerah serta berbagai jenjang jabatan.

“Rekor MURI ini bukan semata penghargaan, tetapi penanda bahwa reformasi birokrasi di Jawa Timur berjalan dengan strategi yang jelas, terukur, dan berdampak. Kita ingin birokrasi Jatim sejajar dengan standar global, dan pemetaan talenta adalah pintu masuknya,” ujar Khofifah.

Data menunjukkan bahwa pemetaan telah dilakukan secara menyeluruh hingga tingkat kabupaten/kota. UPT Penilaian Pegawai secara aktif menggelar asesmen bagi jabatan pelaksana, fungsional, dan administrator. Integrasi potensi, kompetensi, dan Talent DNA menempatkan Jatim sebagai daerah dengan cakupan manajemen talenta ASN terbesar saat ini.

Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur menjadi kontributor terbesar dengan 5.864 ASN terpetakan. Sementara itu, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur mencatat 1.545 ASN dari formasi ideal 4.220, Sekretariat Daerah Jatim memiliki 437 ASN dari formasi ideal 779, dan Sekretariat DPRD Jatim 119 ASN dari formasi ideal 190.

Secara keseluruhan, Pemprov Jatim memiliki total 86.749 pegawai, yang terdiri dari 38.106 PNS dan 20.137 pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK).

“Dengan pemetaan yang presisi, termasuk pemetaan potensi dan Talent DNA, kita bisa mengetahui di mana kekurangan tenaga kesehatan, di mana kelebihan jabatan tertentu, dan bagaimana menempatkan talenta terbaik di posisi paling strategis,” kata Khofifah.

Khofifah menambahkan, pemetaan talenta merupakan bagian dari strategi besar untuk memperkuat manajemen talenta ASN, meningkatkan profesionalitas birokrasi, serta mempersiapkan aparatur yang adaptif dalam menghadapi transformasi layanan publik.

“Kita ingin birokrasi yang gesit, kompeten, dan adaptif bukan hanya memenuhi jumlah, tetapi memenuhi kualitas. Setiap ASN harus tahu posisi, peran, dan potensi dirinya dalam mendukung agenda pembangunan Jatim,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Khofifah juga menyampaikan apresiasi kepada BKD Jatim, UPT Penilaian Pegawai, perangkat daerah, serta pemerintah kabupaten/kota yang telah melaksanakan pemetaan ASN secara serentak dan sistematis.

“Jawa Timur berkomitmen menjadi penjalin sinergi manajemen talenta ASN di Indonesia, dari hulu ke hilir. Pemetaan masif ini akan menjadi standar baru bagi reformasi birokrasi yang modern dan berkelas dunia,” tutup Khofifah. (anta/red)