pemeriksaan sppg pascainsiden keracunan masal tulungagung

TULUNGAGUNG, Lingkar.news Ratusan siswa SMK Negeri 3 Boyolangu, Tulungagung, Jawa Timur, dilaporkan mengalami diare pada Selasa (20/1/2026).

Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan konsumsi menu MBG (Makan Bergizi Gratis) yang dibagikan di sekolah sehari sebelumnya.

Akibat insiden ini, pihak sekolah memutuskan memulangkan seluruh siswa lebih awal agar mereka dapat segera memperoleh penanganan medis.

Gejala Muncul Sejak Selasa Pagi

Wakil Kepala SMKN 3 Boyolangu Bidang Kesiswaan, Yuga Hermawan, mengatakan gejala gangguan kesehatan mulai terdeteksi sejak Selasa pagi, setelah sejumlah siswa terlambat masuk kelas dan mengeluhkan diare.

“Awalnya ada beberapa siswa yang terlambat masuk kelas dan dibawa ke ruang kesiswaan. Setelah dimintai keterangan, mereka mengeluh mengalami diare dan harus antre di toilet,” kata Yuga.

Keluhan serupa juga disampaikan siswa lain yang mendatangi Unit Kesehatan Sekolah (UKS) untuk meminta obat.

Ratusan Siswa dan Guru Mengalami Diare

Berdasarkan pendataan sementara pihak sekolah, sebanyak 123 siswa SMKN 3 Boyolangu mengalami diare dengan gejala yang hampir sama.

Yuga menyebutkan para siswa menduga gangguan kesehatan tersebut berkaitan dengan menu MBG yang dikonsumsi pada Senin (19/1/2025) pagi.

“Menu MBG dikonsumsi siswa sekitar pukul 08.00 WIB dan keluhan diare mulai muncul sekitar pukul 20.00 WIB,” ujarnya.

Sementara itu, guru dan tenaga pendidik yang mengonsumsi MBG pada siang hari baru merasakan gejala serupa pada dini hari.

Menurut Yuga, sekitar 80 persen siswa dan tenaga pendidik di SMKN 3 Boyolangu mengeluhkan kondisi kesehatan yang sama, termasuk dirinya.

Menu MBG Ditarik, Siswa Dipulangkan Awal

Pihak sekolah langsung berkoordinasi dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Mutiara Rawa Selatan Moyoketen selaku penyedia MBG.

Sebagai langkah antisipasi, penyedia MBG menarik seluruh menu makanan yang telah didistribusikan pada hari tersebut.

Selain itu, sekolah memutuskan memulangkan siswa lebih awal agar mereka yang mengalami gejala dapat segera mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan.

“Saat ini kami masih melakukan pendataan dan berkoordinasi dengan wali murid terkait kemungkinan adanya siswa yang menjalani perawatan medis,” kata Yuga.

Jurnalis: Ant
Editor: Basuki