
SURABAYA, Lingkar.news – Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa menyebut kawasan Jatim Hub di Kabupaten Sidoarjo mampu memperkuat daya saing ekspor Jawa Timur melalui integrasi layanan karantina dan logistik.
Menurut Khofifah, integrasi tersebut akan mempercepat distribusi barang, menekan biaya logistik, sekaligus mengurangi dwelling time di jalur perdagangan ekspor-impor.
“Di tengah persaingan perdagangan global, kecepatan layanan menjadi bagian dari daya saing,” kata Khofifah dalam keterangannya di Surabaya, Sabtu (9/5/2026).
Ia menjelaskan, keberadaan Instalasi Karantina Terpadu Jawa Timur di kawasan Puspa Agro Jemundo, Sidoarjo merupakan langkah strategis untuk memperkuat efisiensi perdagangan dan logistik, sekaligus meningkatkan pengawasan lalu lintas komoditas hewan, ikan, dan tumbuhan.
Fasilitas tersebut merupakan implementasi konsep Integrated Agro-Logistics and Quarantine Gateway yang mengintegrasikan sistem logistik pangan dan prosedur karantina dalam satu layanan modern, cepat, dan transparan.
“Dengan adanya gerbang terintegrasi ini, proses logistik dan karantina tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling terhubung dalam satu sistem yang modern dan efektif,” ujarnya.
Khofifah menambahkan, penguatan fungsi karantina juga selaras dengan strategi Gerbang Baru Nusantara yang menempatkan Jatim sebagai pusat konektivitas, logistik, dan ekonomi penghubung kawasan Indonesia Barat dan Timur.
Menurutnya, posisi strategis Jawa Timur didukung oleh tujuh bandara, 37 pelabuhan, 12 ruas jalan tol, dua Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), 13 kawasan industri, dan satu kawasan industri halal.
Ia menyebut Pelabuhan Tanjung Perak melayani 24 dari 41 rute Tol Laut nasional, sehingga hampir 80 persen pasokan logistik wilayah Indonesia Timur berasal dari Jawa Timur.
“Hal ini semakin menegaskan posisi Jawa Timur sebagai center of gravity logistik dan perdagangan nasional sekaligus Gerbang Baru Nusantara,” tegasnya.
Khofifah berharap kawasan Jatim Hub dapat menjadi pintu masuk produk koperasi, usaha kecil menengah (UKM), dan industri kecil menengah (IKM) menuju pasar global.
“Kita ingin produk-produk daerah, termasuk produk Koperasi Merah Putih, UKM dan IKM, tidak hanya beredar di pasar domestik, tetapi juga mampu bersaing di pasar global,” katanya.
Menurutnya, tantangan terbesar yang dihadapi pelaku usaha selama ini adalah lambatnya distribusi barang dan tingginya biaya logistik. Karena itu, integrasi layanan karantina dan logistik dinilai penting agar distribusi menjadi lebih cepat dan efisien.
Instalasi karantina terpadu tersebut mengintegrasikan pemeriksaan, pengasingan, tindakan karantina, hingga pengujian laboratorium dalam satu kawasan yang diperkuat sistem joint inspection bersama Bea Cukai.
Kawasan Jatim Hub juga dilengkapi fasilitas pergudangan, cold storage, tempat penimbunan sementara, kawasan distribusi, laboratorium, dan pasar terpadu.
Pengembangan kawasan dilakukan melalui kolaborasi Pemprov Jawa Timur dengan Badan Karantina Indonesia serta dukungan PT Jatim Grha Utama (JGU) sebagai badan usaha milik daerah (BUMD).
Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin), Abdul Kadir Karding, mengatakan keberadaan balai karantina merupakan bentuk keseriusan pemerintah dalam memperkuat perlindungan sumber daya alam hayati nasional.
“Kami berterima kasih kepada Ibu Gubernur Khofifah yang telah menempatkan Balai Karantina di satu tempat sehingga barang yang diuji dan dikarantina bisa lebih mudah, efektif, efisien, tidak berbelit, dan mengurangi dwelling time,” ujarnya.
Jurnalis: Ant
Editor: Basuki
