
MALANG, Lingkar.news – Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) menggandeng Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membentuk UMM Migrant Center sebagai pusat layanan terpadu untuk menyiapkan lulusan yang memiliki kompetensi dan daya saing di pasar kerja internasional.
Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dalam rangkaian Wisuda ke-122 UMM di Dome UMM, Malang. Kolaborasi mencakup penguatan pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan sumber daya manusia, hingga pembentukan UMM Migrant Center.
Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Dzulfikar Ahmad Tawalla, Direktur Jenderal Pemberdayaan Dr. M. Fachri, serta Direktur Jenderal Promosi dan Pemanfaatan Peluang Kerja Luar Negeri Dwi Setiawan Susanto.
Dalam pidato bertajuk Menyiapkan Generasi Berdaya Saing Global, Dzulfikar mengatakan perubahan teknologi, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), dan dinamika pasar kerja global menuntut generasi muda untuk terus meningkatkan kompetensi dan kemampuan beradaptasi.
“Hari ini, tantangannya bukan lagi apakah dunia berubah, tetapi apakah kita mampu berubah lebih cepat. Ijazah adalah pintu masuk, tetapi kompetensi, karakter, kemampuan belajar sepanjang hayat, dan keberanian mengambil peluang global adalah kunci keberhasilan. Indonesia memiliki bonus demografi yang besar, dan negara harus memastikan bonus tersebut menjadi kekuatan, bukan sekadar angka statistik,” ujarnya.
Menurut Dzulfikar, peluang kerja di luar negeri terus meningkat seiring bertambahnya kebutuhan tenaga kerja di berbagai negara akibat fenomena aging population. Karena itu, perguruan tinggi dinilai memiliki peran strategis dalam mencetak lulusan yang memenuhi standar kompetensi internasional.
Ia menambahkan, kemampuan reskilling, upskilling, literasi teknologi, AI, kreativitas, dan ketangguhan menjadi bekal utama bagi lulusan untuk bersaing di pasar kerja global.
Direktur Jenderal Pemberdayaan KP2MI, Dr. M. Fachri, mengatakan kolaborasi dengan perguruan tinggi merupakan bagian dari strategi pemerintah membangun ekosistem pemberdayaan pekerja migran sejak calon tenaga kerja masih berada di bangku pendidikan.
“Pemberdayaan tidak dimulai ketika seseorang sudah menjadi pekerja migran, tetapi sejak masih berada di bangku pendidikan. Karena itu, kami membangun kolaborasi dengan perguruan tinggi agar lulusan Indonesia memiliki informasi yang benar, kompetensi yang sesuai kebutuhan industri global, serta kesiapan mental dan profesional untuk bekerja secara prosedural, aman, dan bermartabat,” katanya.
Fachri menjelaskan UMM Migrant Center diharapkan menjadi simpul layanan yang mengintegrasikan penyebarluasan informasi peluang kerja luar negeri, peningkatan kompetensi, harmonisasi kurikulum, penguatan pendidikan vokasi, hingga pendampingan mahasiswa dan lulusan yang ingin berkarier di luar negeri.
Ruang lingkup kerja sama juga meliputi penyusunan data dan profil lulusan, peningkatan kompetensi sesuai kebutuhan negara tujuan, penyebarluasan informasi penempatan dan pelindungan pekerja migran Indonesia (PMI), standardisasi lembaga vokasi, serta pelaksanaan berbagai program bersama.
Sementara itu, Direktur Jenderal Promosi dan Pemanfaatan Peluang Kerja Luar Negeri KP2MI, Dwi Setiawan Susanto, menilai kolaborasi tersebut menjadi langkah konkret untuk menghubungkan dunia pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja internasional yang terus berkembang.
“Selama ini peluang kerja luar negeri masih sangat besar, namun tantangan utama adalah memastikan kualitas tenaga kerja kita sesuai dengan kebutuhan dunia usaha global. Melalui UMM Migrant Center, kami ingin membangun sistem yang mampu menghubungkan lulusan perguruan tinggi dengan peluang kerja internasional secara lebih terarah, terukur, dan sesuai standar kompetensi,” ujarnya.
Nota Kesepahaman antara KP2MI dan UMM berlaku selama lima tahun dan menjadi payung kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, kegiatan ilmiah, serta pengembangan sumber daya manusia.
KP2MI menilai sinergi dengan perguruan tinggi menjadi bagian penting dalam membangun sumber daya manusia Indonesia yang unggul. Melalui kerja sama tersebut, lulusan diharapkan tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga siap menjadi talenta global yang profesional, adaptif, dan mampu bersaing di pasar kerja internasional.
Sebagai tindak lanjut arahan Presiden untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia, KP2MI menyatakan akan terus memperluas kemitraan dengan perguruan tinggi, dunia usaha, pemerintah daerah, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya guna menghadirkan sistem penyiapan pekerja migran Indonesia yang berkualitas, terlindungi, dan berdaya saing global.
Penulis: Amelia Erisanna
Editor: Basuki
