
GRESIK, Lingkar.news – Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani mendorong pelestarian kuliner tradisional tidak hanya dilakukan untuk menjaga warisan budaya, tetapi juga dikembangkan agar memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Bupati Yani saat membuka Festival Menjadi Gresik di Kampung Kemasan, Sabtu (15/8/2026). Festival yang digagas Yayasan Gang Sebelah itu berlangsung hingga 30 Agustus 2026 dan mengangkat sejarah, budaya, seni, gastronomi, serta studi kultural Gresik.
Dalam rangkaian pembukaan, festival menghadirkan fine dining bertajuk “Menjadi Gresik” melalui program Dapur Saji. Tiga kuliner yang memiliki keterkaitan dengan identitas dan sejarah Gresik disajikan dalam kegiatan tersebut, yakni bubur roomo, bandeng keropok, dan jenang jubung.
Ketiga kuliner itu disajikan dengan pendekatan berbeda. Bubur roomo dipincuk menggunakan daun api-api atau mangrove, bandeng keropok menggunakan bandeng tanpa duri yang di-grill dengan daun pisang, sedangkan jenang jubung dihadirkan sebagai isian pia.
Bupati Yani mengatakan kuliner tradisional Gresik memiliki nilai lebih dari sekadar makanan karena masih menjadi bagian dari kehidupan dan sumber penghidupan masyarakat.
“Makanan-makanan ini usianya mungkin sudah berpuluh tahun, bahkan bisa lebih tua daripada saya. Tetapi sampai hari ini masih bisa memberikan dampak dan manfaat. Masih banyak masyarakat Gresik yang hidup dari proses kuliner tadi,” ujar Bupati.
Menurutnya, keberadaan kuliner tradisional yang mampu bertahan hingga saat ini menunjukkan bahwa warisan budaya dapat terus memiliki relevansi apabila dikembangkan dan dikenalkan kepada generasi berikutnya.
Karena itu, pelestarian budaya dan kuliner perlu dilakukan dengan pendekatan yang tidak hanya mempertahankan bentuk aslinya, tetapi juga membuatnya tetap dikenal, dinikmati, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kita semua terus melestarikan apa yang menjadi warisan budaya yang sampai hari ini bisa kita lihat, bisa kita rasakan, punya dampak, punya manfaat untuk kesejahteraan masyarakat Kabupaten Gresik,” tuturnya.
Selain aspek ekonomi, Bupati Yani menilai pengenalan sejarah juga penting untuk menjaga hubungan generasi muda dengan identitas daerah. Menurutnya, perjalanan Gresik sebagai kota pelabuhan telah membentuk keragaman budaya dan tradisi yang menjadi kekayaan daerah.
“Sejarah adalah masa depan kita. Kita bisa melihat Gresik tempo dulu, Gresik yang begitu luar biasa. Gresik sebagai kota pelabuhan tentu memiliki perpaduan budaya, etnis, kuliner, dan macam-macam kekayaan yang bisa kita lihat,” katanya.
Ia juga mengapresiasi Yayasan Gang Sebelah yang menghadirkan sejarah Gresik melalui pendekatan seni dan budaya yang dekat dengan masyarakat.
“Alhamdulillah, malam ini kita bisa melihat langsung sejarah yang telah dikumpulkan oleh teman-teman komunitas seni dari Yayasan Gang Sebelah. Kita bisa bernostalgia melihat masa lalu Gresik, sejarah Gresik yang begitu luar biasa,” ujar Bupati Yani.
Usai mengikuti fine dining, Bupati Yani meninjau pameran seni yang menampilkan berbagai karya dan cerita mengenai Gresik.
Festival Menjadi Gresik Gunakan Riset Gastronomi Program Dapur Saji
Direktur Festival Menjadi Gresik Hidayatun Hikmah mengatakan festival tersebut telah digagas sejak sekitar dua hingga tiga tahun lalu. Menurutnya, festival lahir dari keinginan untuk mengajak masyarakat mengenal dan mencintai Gresik melalui berbagai bidang.
“Kami ingin mengajak teman-teman lebih mencintai Gresik melalui caranya masing-masing, melalui bidang keilmuannya masing-masing, melalui apa yang dirasakan masing-masing,” ujarnya.
Salah satu pendekatan yang digunakan adalah riset gastronomi melalui program Dapur Saji. Makanan dipilih karena memiliki kedekatan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat sekaligus menyimpan cerita mengenai perjalanan budaya Gresik.
“Bagi kami, Gresik adalah dapur, tempat segalanya dimulai kemudian disajikan. Makanya kami memilih tema Dapur Saji,” katanya.
Festival Menjadi Gresik juga menghadirkan studi kultural yang melibatkan kelompok lintas disiplin. Sebanyak delapan kelompok dari kalangan seniman, sekolah, perguruan tinggi, hingga duta wisata akan mempresentasikan hasil riset dan karya selama festival berlangsung.
Keterlibatan kelompok dari berbagai latar belakang tersebut menjadi bagian dari upaya membaca sejarah dan kebudayaan Gresik melalui beragam perspektif.
“Literasi di sini tumbuh dengan baik. Kita punya banyak sejarah, kaya akan kebudayaan yang sangat beragam dan sangat bisa kita sajikan dengan berbagai macam cara,” ujarnya.
Festival Menjadi Gresik berlangsung hingga 30 Agustus 2026 dengan menghadirkan berbagai kegiatan yang menghubungkan sejarah, budaya, seni, dan kuliner. Melalui kegiatan tersebut, warisan Gresik tidak hanya dikenalkan sebagai bagian dari masa lalu, tetapi juga diarahkan untuk tetap memiliki nilai sosial dan ekonomi bagi masyarakat.
Penulis: HMS
Editor: Redaksi