
NGAWI, Lingkar.news – Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat tanam padi serentak di 38 kabupaten/kota Provinsi Jawa Timur (Jatim) sebagai langkah strategis menjaga produksi pangan nasional dalam menghadapi potensi kemarau akibat fenomena El Nino.
Gerakan tanam yang dipusatkan di Kabupaten Ngawi dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan melalui Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dengan mengusung tema Sawah Bersholawat Mendukung Swasembada Pangan Berkelanjutan.
“Percepatan ini diarahkan untuk meningkatkan luas tambah tanam (LTT) secara signifikan guna memastikan ketersediaan pangan tetap terjaga dan mendukung target swasembada pangan berkelanjutan,” kata Kepala BBPOPT sekaligus Penanggung Jawab Swasembada Pangan Berkelanjutan (SPB) Jawa Timur Yuris Tiyanto, Jumat (24/4/2026).
Yuris menyampaikan melalui gerakan itu, ditargetkan kenaikan LTT hingga 3,4 persen dalam satu hari atau dua kali lipat dari hari sebelumnya, sebagai bagian dari upaya akselerasi produksi di tengah potensi tekanan iklim.
Langkah percepatan tanam itu sekaligus menjaga tren positif sektor pertanian. Tercatat, luas tanam periode Oktober 2025 hingga Maret 2026, meningkat 9,7 persen, sementara produksi beras naik lebih dari 2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Melalui gerakan hari ini diharapkan kenaikan LTT bisa mencapai 3,4 persen dalam satu hari atau dua kali lipat dari hari sebelumnya. Ini bukan seremonial, tetapi gerakan yang harus berdampak nyata,” tegasnya.
Untuk mendukung percepatan tersebut, berbagai langkah strategis terus diperkuat, mulai dari percepatan olah tanah, optimalisasi irigasi dan pompa air, hingga penguatan koordinasi lintas sektor antara pemerintah daerah, TNI, penyuluh, dan petani.
Pengawalan terhadap organisme pengganggu tumbuhan (OPT) juga menjadi perhatian penting melalui pemanfaatan teknologi digital seperti sistem SIFORTUNA yang dikembangkan BBPOPT.
SIFORTUNA saat ini telah menjadi salah satu menu pada dashboard Operation Room, dan dimanfaatkan oleh Kantor Staf Presiden (KSP) dalam menyampaikan informasi pengamanan produksi kepada Presiden Republik Indonesia.
“Melalui teknologi ini, potensi serangan OPT dapat diprediksi lebih dini, sehingga langkah pengendalian bisa dilakukan secara cepat dan tepat,” imbuh Yuris.
Sementara itu, Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim Denny Kurniawan menekankan pentingnya aksi penanaman serempak dalam seluruh siklus produksi.
“Tanam serentak harus diikuti panen serentak. Kita menghadapi tantangan besar El Nino, namun alhamdulillah Jawa Timur selama enam tahun terakhir tetap menjadi nomor satu nasional,” ucapnya.
Wakil Bupati Ngawi Dwi Rianto Jatmiko mengungkapkan sektor pertanian di daerahnya terus menunjukkan kinerja positif. Produksi padi tahun 2025, tercatat mencapai 772.571 ton gabah kering giling (GKG), meningkat dibanding tahun sebelumnya dan berkontribusi sekitar 7 persen terhadap produksi di Jatim.
“Ngawi saat ini menjadi salah satu daerah dengan produktivitas tinggi, bahkan menempati peringkat ketiga produksi padi di Jawa Timur setelah Lamongan dan Bojonegoro,” bebernya.
Ia menambahkan berbagai inovasi terus dilakukan, seperti pengembangan Pertanian Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PRLB), modernisasi irigasi, serta pemanfaatan teknologi pertanian untuk menghadapi tantangan perubahan iklim, termasuk potensi El Nino yang diprediksi terjadi pada pertengahan 2026.
Sebelumnya, Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman menegaskan swasembada pangan merupakan agenda prioritas yang harus diwujudkan melalui kerja cepat dan terintegrasi.
“Kita harus bergerak cepat, tepat, dan bersama. Swasembada pangan adalah kebutuhan bangsa yang tidak bisa ditunda,” kata Amran.
Jurnalis: Ant
Editor: Basuki
