
JAKARTA, Lingkar.news – Bendera Merah Putih resmi berkibar di atas kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi yang kini berganti nama menjadi Kapal Republik Indonesia (KRI) Sriwijaya-100 di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (24/9/2026).
Pengibaran bendera dilakukan dalam upacara peresmian kapal induk pertama milik TNI AL tersebut. Tiga personel TNI AL bertugas sebagai pengerek, pembawa, dan pembentang bendera.
Bendera Merah Putih perlahan dikibarkan di ujung tiang kapal bersamaan dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Setelah pengibaran bendera selesai, Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto selaku inspektur upacara mengukuhkan perubahan nama ITS Giuseppe Garibaldi menjadi KRI Sriwijaya-100.
“Pada hari ini, Kamis, 24 September 2026, saya Jenderal TNI Agus Subiyanto, Panglima TNI, dengan ini saya resmikan KRI Sriwijaya-100 masuk ajaran TNI AL,” kata Agus saat membacakan pernyataan peresmian penggantian nama kapal induk tersebut.
Sejumlah pejabat hadir dalam upacara tersebut, di antaranya KSAD Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali, dan KSAU Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono. Jajaran anggota DPR dan pejabat publik lainnya juga terlihat hadir.
Sebelum menjadi KRI Sriwijaya-100, kapal tersebut berstatus ITS Giuseppe Garibaldi dengan nomor lambung C551. Kapal itu diberikan Pemerintah Italia kepada Indonesia melalui skema hibah antarpemerintah.
Giuseppe Garibaldi dibangun Italia di galangan Cantieri Navali di Monfalcone. Pembangunannya dimulai pada 20 Februari 1978 dan kapal diluncurkan pada 4 Juni 1983.
Kapal tersebut memiliki panjang 180,2 meter. Lebarnya mencapai 23,4 meter pada garis air dan 30,4 meter pada bagian dek penerbangan. Adapun panjang dek penerbangannya mencapai 173,8 meter.
KRI Sriwijaya-100 nantinya dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan operasi TNI, termasuk Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Kementerian Pertahanan menyebut kapal tersebut dapat dioptimalkan untuk penanggulangan bencana alam dan distribusi logistik ke wilayah terpencil.
Kemampuan tersebut memungkinkan kapal dimanfaatkan dalam misi kemanusiaan di Indonesia yang memiliki wilayah kepulauan luas dan menghadapi berbagai potensi bencana, seperti gempa bumi, banjir, tanah longsor, dan erupsi gunung berapi.
Jurnalis: Ant
Editor: Basuki
